Ahad, November 07, 2010

Hukum Menyandarkan Keburukan Kepada Allah Azza wa Jalla

Dalam Syarah Aqidah Wasithiyyah [1] ada disebutkan:

Yang baik adalah yang sejalan dengan tabiat manusia, di mana dengannya dia menjadi baik, berbahagia dan senag. semua itu adalah dari Allah Azza wa Jalla.

Sedangkan yang buruk dalam Taqdir adalah tidak sejalan dengan tabiat manusia, di mana dengannya dia tertimpa kesulitan dan kesengsaraan.

Akan tetapi jika dikatakan, bagaimana dikatakan bahawa pada takdir Allah terdapat keburukan, padahal Nabi SAW telah bersabda:

الشر ليس إليه

"Keburukan tidak (dinisbatkan) kepadaNya." [2]

Jawab, Keburukan pada taqdir tidak berdasarkan taqdir Allah padanya, akan tetapi berdasarkan apa yang ditaqdirkan, kerana ada qadar yang merupakan dan apa yang taqdirkan, sebagaimana ada penciptaan dan apa yang diciptakan (makhluk), ada iradah (keinginan) dan apa yang diinginkan. jadi, kalau berdasar kepada taqdir Allah, maka ia bukan keburukan, justeru ia baik, bahkan seandainya itu menyengsarakan dan memudharatkan seseorang serta tidak sesuai dengan tabiatnya. Kalau berdasarkan apa yang ditaqdirkan, maka ada yang baik dan ada yang buruk. Jadi takdir baik dan buruk maksudnya adalah apa yang ditaqdirkan baik dan buruknya Contoh adalah firman Allah Ta'ala:

ﯾ  ﯿ        ﰀ  ﰁ    ﰂ  ﰃ  ﰄ               ﰅ  ﰆ   ﰇ       ﰈ  ﰉ   ﰊ  ﰋ  ﰌ   الروم: ٤١

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan kerana perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka." (Ar-Rum: 41).

Di dalam ayat ini Allah 'Azza wa jall menjelaskan kerusakan yang terjadi, pemicu dan tujuan darinya. Kerusakan adalah keburukan, pemicunya adalah perbuatan buruk manusia dan tujuannya adalah,

   ﰇ       ﰈ  ﰉ   ﰊ  ﰋ  

"Supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka"

Kerusakan yang terlihat di daratan dan lautan mengandung hikmah meskipun ia sendiri buruk, akan tetapi kerana hikmahnya yang besar, maka penakdirannya menjadi baik.

Begitu pula kemaksiatan dan kekufuran, ia adalah keburukan, ia termasuk takdir Allah, akan tetapi kerana hikmah yang besar. Kalau bukan kerana itu, niscaya batallah syariat, dan kalau bukan kerana itu, niscaya penciptaan manusia hanyalah main-main.

Iman kepada qadar baik dan buruknya tidak menuntut iman kepada segala apa yang ditaqdirkan, karena apa yang ditaqdirkan terbahagi menjadi kauni dan syar'i.

Apa yang ditaqdirkan secara syar'i, mungkin dilaksana oleh seseorang dan mungkin tidak, akan tetapi dengan melihat kepada kerelaan kepadanya, maka harus diperinci, jika ia adalah ketaatan kepada Allah, maka wajib rela kepadanya, jika ia adalah kemaksiatan, maka wajib dibenci, dihindari dan dilenyapkan, sebagaimana Firman Allah 'Azza wa Jalla,

ﮖ  ﮗ  ﮘ   ﮙ  ﮚ  ﮛ   ﮜ  ﮝ      ﮞ  ﮟ  ﮠ  ﮢ  ﮣ  ﮤ    
 آل عمران: ١٠٤

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung." (Ali Imran: 104)

Dari sini maka kita wajib beriman kepada segala apa yang diputuskan dari sisi di mana ia merupakan Qadha' dari Allah 'Azza wa Jalla. Ada pun dari sisi ia sebagai keputusan, maka kita mungkin rela dan mungkin tidak, jadi seandainya kekufuran terjadi pada seseorang, maka tidak rela terhadap kekufuran darinya, akan tetapi kita rela sebagai ketetapan dari Allah

[1] Syarahan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Uthaimin. 
[2] Riwayat Muslim. Hadith 1290 dalam Bab Doa Dalam Solat Malam. Tercatat lafazh dhamir Ilaika, bukan Ilaihi

Komen:

belum sempurna menulis.